On Being a Wife (1)

Sudah hampir 9 bulan lamanya gue menjalani kehidupan berkeluarga dengan suami tercinta. Sembilan bulan yang sangat fun, full of jokes and pranks (we do a hard core pranks to each other but still in lovable way, anw). I love being married dan ternyata menikah itu menyenangkan. Mungkin karena gue orangnya suka komitmen, control-freaks dan insecure. Jadi ketika sudah menikah, rasa insecure itu pelan-pelan hilang aja gitu. But, in the other way, menikah juga membuat gue sangat ketergantungan sama suami. Berbeda ketika dulu masih perawan yah, yang kemana-mana sendirian, travelling hayuk, ke mall hayuk. Asalkan ada uang, langkah kaki pasti ringan hehehe.
Tapi sekarang? Alamakjaanggg.. Pergi kantor bareng, pulang kantor bareng, makan malem bareng, bobok juga harus bareng. Untung kegiatan di kamar mandi gak bareng juga.
Seneng sih.. seneng banget malah. I could always share things with him. Yang enggak enaknya adalah ketika pekerjaan mengharuskan gue pulang malem atau sebaliknya, rasa tidak enak membuat suami menunggu itu gak enak banget. Kalau dia yang pulang malem, gue harus berbesar hati menunggu atau pulang sendiri naik Kopaja AC sampai ke rumah, dan bagi gue yang udah jaraaaang banget naik angkutan umum, berdiri di Kopaja sejam itu sungguh pe-er banget. Awalnya gue berniat gak mau naik Kopaja, maunya naik taksi aja, namun seiring perjalanan waktu dan kondisi pekerjaan suami yang harus pulang malam, membuat gw menyerah dengan keadaan (dompet), jadilah awak berkendara dengan Kopaja. It was hard at first, but i’m getting used to it. Gak boleh manja ah, wong dulu juga suka naik angkutan umum , kenapa sekarang mesti sok-sok high maintenance, pikiran itu yang membuat gw legowo mesti naik angkutan umum dan berdesak-desakan lagi. Now, it feels a lot easier. Ternyata ikhlas truly meringankan hati ya kaakkk.
Nah itu baru tentang transportasi ya, belum urusan kamar tidur. Selama 9 bulan ini suami beberapa kali keluar kota. Gue terpaksa tidur sendiri, tapi karena suami gue baik jadi selama doi gak ada, gue ngungsi ke rumah nyokap hehe. Males di rumah bobok sendirian, walaupun ada si-mbak dan adek ipar yang masih serumah, but the house feels empty without him. Jadi SOP-nya kalau suami dinas, gue akan pulang selang beberapa jam kepulangan dia ke rumah, jadi gue gak akan menunggu di rumah sendokiran gitu sambil galau, ogah!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s