Holy Ramadhan

Jadi sudah 3 malam ini gue shalat tarawih di musholla depan rumah. Mushola yang jaraknya dekat banget dengan rumah karena kepleset aja sampe. Mushola ini berbeda banget dengan mesjid yang ada di komplek rumah nyokap, mungkin luas dan besarnya cuma 1/4nya. Orang yang sholat otomatis tidak banyak dan enaknya kalau shalat disini gak mesti cepet-cepet sampe trus nge-tag tempat (macam mau ujian). Jadi karena gue datang sekitar 5-10 menit sebelum adzan Isya, gue selalu kedapetan shalat di shaf paling depan.

Tiba-tiba tadi malam ada seorang Ibu berumur lanjut yang menghampiri gue dan menanyakan “Neng, siapanya Ibu Djoko? Ibu kenal sajadah Ibu Djoko” sambil menunjuk sajadah yang sedang gue pakai. Gue jawab “Saya menantunya Bu, istrinya Mas Tomi”. Lalu tiba-tiba Ibu tersebut sambil berkaca-kaca bilang ke gue kalo (Almh) Mama adalah orang sangat baik, (Almh) Mama membelikan Ibu kipas angin. Gw langsung tertegun, melihat penampilan Ibu yang sederhana, bahkan dia memakai dompet yang merupakan souvenir nikah abang ipar gue di tahun 2009. Karena udah iqomat, gue gak ngobrol lagi dengan Ibu itu. Tapi hati ini terasa hangat karena mendengar pujian Ibu itu untuk (almh) Mama mertua. Setelah gue perhatikan, Ibu ini adalah orang yang malam sebelumnya berdiri persis di samping gue saat shalat, si Ibu yang sudah susah shalat sambil berdiri tapi tetap kuat sampai 23 rakaat (dan waktu itu gue cuman 8 rakaat trus shalat witir di rumah, sungguh malu!).

Setelah shalat selesai, biasa kan ya ada salam-salaman sebelum pulang. Ketika gue salaman sama Ibu itu, tangan si Ibu gemeteran, airmata keluar dari matanya yang udah keriput sambil berkata ” Neng, Ibu doain sekeluarga sehat ya dan selalu dilindungi Allah SWT”.

Nyesss rasanyaa.. ketika orang asing mendoakan elo sekeluarga. Orang yang mungkin tidak berdaya dengan segala kekurangannya, tapi masih mau mendoakan orang lain.

Setelah suami sampe rumah, gue langsung nanyain perihal Ibu itu. Ternyata Ibu itu bernama Ibu Zubaedah, biasa dipanggil Ibu Zub. Ibu Zub tinggal sendirian, suami Ibu Zub sudah meninggal dan tidak memiliki anak. Ibu Zub tinggal dengan menumpang di rumah warga. (Almh) Mama memang sering membantu Ibu Zub, pernah membelikan kipas angin, sering memberi makanan, dsb. Terakhir tahun lalu, kakak ipar juga kasih mukena ke Ibu Zub.

Dan gue pun langsung nangis…

Gue nangis karena gue tau dunia memang tidak adil tapi Allah tau yang terbaik untuk hambaNya.

Gue nangis karena begitu baik dan mulianya (Almh) Mama sewaktu masih hidup, sampe ada yang masih inget sama amal kebaikan Mama. Makin sedih karena gak bisa ngerasain jadi anak menantu (Almh) Mama.

Lalu seketika inget daftar barang yang pengen dibeli pas THR masuk rekening dan menyadari betapa kurang bersyukurnya gue dan kurang pedulinya gue terhadap lingkungan sekitar rumah gue yang ternyata masih banyak yang perlu dibantu. Padahal memberi dan bersedekah ke orang-orang terdekat yang membutuhkan adalah kegiatan yang seringkali (Almh) Mama lakukan dulu.

Makasih ya Ma udah diingetin untuk selalu berbagi 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s